Saturday, September 30, 2023

Sendiri Yang Tidak Biasa



Tantangan yang berbeda untuk menjalani waktu dalam kesendirian. Cerita di tahun ke lima perjalanan sebagai ibu tunggal. Seringkali bukan hanya tentang uang dan kesulitan mata pencaharian. Tapi muncul juga kerikil – kerikil tajam yang datang sekadar untuk menguji.

Pagi itu aku berangkat ke kantor seperti biasa. Tidak pernah terpikirkan bahwa hari itu, untuk pertama kalinya seorang wanita akan datang dan menegurku, menggoda suaminya. Entah dia mendapatkan berita dari siapa bahwa aku adalah single mom yang sedang dekat dengan prianya. Baiklah, buatku tidak masalah. Aku tahu posisiku selalu saja mungkin menghadirkan rasa cemburu di hati banyak orang. Namun apa hendak dikata, ini pilihanku untuk berjalan dan bahagia. Bahkan aku tidak perlu menjelaskan kenapa aku memilih persimpangan.

Sebenarnya suami ibu itu adalah atasanku. Selama ini aku menghormatinya sebagai atasan yang selalu peduli pada bawahan. Semua staff merasa dirangkul di bawah kepemimpinannya, termasuk aku tentunya. Dan aku pikir posisiku sama saja seperti staff lain yang ada di department yang sama.

Hingga suatu hari, aku terjebak di kantor karena hujan. Biasanya aku pulang menggunakan taksi atau meminta sopir kantor mengantarku. Namun waktu itu hari sudah agak malam. Sopir kantor juga sudah pulang dan mobil – mobil dinas telah masuk ke kandang. Aku putuskan untuk naik taksi saja.

Belum sempat aku menghubungi taksi, bapak itu datang ke mejaku. Memintaku mengerjakan beberapa dokumen tambahan. Sebenarnya dalam hati aku mengumpat juga. Ini sudah lewat jam kerja, balitaku di rumah pasti sudah menunggu. Lagi pula aku tinggal di kantor malam ini bukan untuk lembur. Aku masih disini karena menunggu hujan agak reda.

Hampir semua staff sudah meninggalkan pekerjaan waktu itu, dan aku, masih berjibaku dengan kertas – kertas tambahan yang baru saja datang ke mejaku. Karena bapak atasanku itu memang baik dan peduli dengan karyawan, ya sudah aku pikir tidak apalah malam ini aku meluangkan sedikit waktu untuk membantunya.

Waktu menunjukkan hampir pukul sembilan. Pekerjaan selesai dan aku bersiap pulang. Sebelumnya aku laporkan dulu kepada bapak itu di ruangannya bahwa pekerjaan selesai.

“Pak, semua laporan sudah saya email. Ini berkasnya saya taruh lagi di meja bapak ya.”

“Oh iya, terima kasih. Sudah agak malam, kamu pulang sama siapa?”

“Saya akan naik taksi biru saja seperti biasa, Pak.”

“Saya setiap hari melalui jalanan yang menuju ke rumahmu, biar kamu sekalian saya antar ya.”

Bapak itu bahkan tidak menunggu jawabanku. Dia menutup laptop, mengambil tasnya dan berlalu dengan kunci mobil di tangan. Aku hanya bengong melihat dia mengatakan seolah memberi instruksi, tanpa peduli apakah aku akan bersedia untuk ikut di mobilnya. Aku segera kembali ke meja kerjaku, menyambar tas, dan berjalan mengikutinya.

“Saya ingin makan sate dulu, di Lenteng Agung ada sate yang enak banget. Kamu temenin ya, paling sebentar. Sekalian nanti bisa bungkus buat keluargamu. Oh iya, disitu banyak makanan enak nanti kamu pilih aja.”

Aku mulai curiga ada unsur sengaja membuatku tinggal di kantor lebih lama malam ini. Dan itu membuatku ingin lebih jelas melihat bisik – bisik staff lain yang kudengar selama ini. Aku tahu mereka suka menggosipkan aku, dengan mengatakan bahwa bapak atasan ini sedang mengincarku.

Namun hatiku selalu berusaha menguatkan diri. Mengincar untuk apa? Bapak ini memang baik pada semua orang, bukan hanya padaku. Lagi pula usianya yang terpaut sepuluh tahun dengan aku. Dia juga memiliki istri dan anak, hidupnya lengkap. Dengan alasan apa mereka mengatakan itu, aku juga tidak tahu.

Sesampainya kami di restoran itu, Bapak atasan itu memesan beberapa menu makanan dan minuman, lagi – lagi tanpa persetujuanku. Aku mulai melihat keinginannya untuk menunjukkan arogansi. Baiklah, ayo kita lihat apa yang akan terjadi malam ini, batinku.

“Kamu mau nggak jadi istri kedua saya?”

Bersyukurnya aku bahwa tusuk sate terakhir baru saja kuletakkan di piring ketika pertanyaan itu datang. Jika tidak, aku membayangkan tusuk sate itu bisa langsung loncat ke tenggorokanku. Aku tetap mencoba tenang dengan pertanyaannya.

“Apa yang membuat Bapak menawarkan hal semacam ini pada saya?”

“Karena kamu punya semua yang saya mau. Dan saya bisa memenuhi semua kebutuhanmu.”

“Memangnya Bapak tahu saya butuh apa?”

“Kasih sayang, kehangatan, dan uang.”

Ingin kumakan semua tusuk sate yang sudah tidak berdaging itu di hadapannya, untuk menunjukkan betapa kuat diriku. Kalau dia pikir uang dan ketampanan cukup ampuh untuk membuatku berkata iya.

“Istri Bapak tahu?”

“Segera jika kamu sudah berkata iya.”

“Apa kurangnya istri Bapak?”

“Dia terlalu sibuk mengurus rumah, anak – anak, dan lupa mengurus dirinya sendiri.”

“Lalu apa kelebihan saya dari istri Bapak?”

“Kamu cantik, pintar, dan seksi.”

Ya ALLAH, aku pikir cerita seperti ini cuma ada dalam drama settingan sutradara. Tapi sekarang aku malah jadi pemain utama dari drama dunia.

“Bapak akan menikahi saya secara resmi?”

“Tidak, karena di hari tua saya akan tetap tinggal dengan istri saya yang sah. Darimu aku juga tidak menginginkan anak baru. Kita akan bersama sebagai dua orang yang saling membutuhkan.”

Aku mulai bersiap meninggalkan orang yang selama ini aku hormati. Dan aku akan meninggalkan dia tanpa rasa hormat disana.

“Bapak tahu nggak, beberapa tahun lalu ketika saya masih punya suami saya juga sama seperti istri bapak. Dasteran, tanpa bedak, dan sibuk saja sama bayi. Hari ini apa yang ada di hadapan Bapak adalah diri saya yang bertransformasi karena kebutuhan akan pekerjaan.”

“Jika kamu jadi istriku, kamu nggak perlu ke kantor. Kamu bisa di rumah dan nyaman dengan semua fasilitas yang akan aku berikan.”

“Dan ketika saya mulai memakai daster lagi? Bapak akan mulai berkenalan dengan wanita baru?”

“Kamu mungkin berbeda dari istriku. Kalau kamu mau pernikahan yang sah pun aku akan berusaha memberikan.”

“Terima kasih pak, saya hanya mau bilang. Sejak awal saya tidak tertarik dengan semua tawaran dan iming – iming Bapak. Saya wanita yang utuh dan saya bahagia. Bapak ingin makan sate tapi tidak mau repot memelihara kambingnya. Padahal jika bapak tahu, ketekunan memelihara hubungan bisa memberikan Bapak lebih banyak dari yang Bapak butuhkan.”

Aku berjalan keluar restoran dan menghentikan taksi biru untuk melaju ke rumahku. Aku lega bahwa akhirnya aku bisa membuktikan apa yang selama ini hanya bisik – bisik belaka. Keesokan harinya, rentetan kalimat dampratan kuterima di ponselku dari istrinya.

Aku berdiri di sebelah istrinya untuk memahami perasaan sesama wanita. Aku cukup blok saja nomornya tanpa berdebat panjang. Sejak malam itu aku belajar bahwa sebaik apapun aku menampilakan diri, akan selalu ada mata yang melihatku dari sudut pandang yang berbeda. Aku tidak perlu menjadi pribadi yang lain. Karena kebenaran selalu membuktika wajah asli pada akhirnya.


Salam Sayang Ans

Friday, September 29, 2023

Single Mom By Choice

 


Memiliki anak tanpa pernah menikah, terdengar belum lazim di Indonesia dan Asia mungkin. Sebutan bagi wanita dengan pilihan ini adalah single mom by choice.

Baik anak itu didapatkan dari proses adopsi atau dari sebuah hubungan tanpa pernikahan.

Ini adalah sebuah view baru dan butuh mata hati yang terbuka lebar untuk melihat kenyataan yang besar. Saya berada di sekitar wanita-wanita hebat ini.

Married by accident, pasti sudah sering terdengar. Kata lainnya apa, ya. Menikah dengan terpaksa karena sudah hamil terlebih dahulu. Apa tujuan pernikahan seperti ini?

Satu-satunya yang paling masuk akal adalah melindungi nama baik keluarga agar Si Bayi jelas siapa ayahnya. Meski pun berdasarkan agama yang saya anut, anak tersebut tetap tidak bisa dinasabkan pada ayahnya.

Waktu telah mempertemukan saya dengan wanita-wanita hebat. Mereka yang berani mengambil tanggung jawab atas kehamilan di luar pernikahan tanpa menjadikan pernikahan sebagai solusi.

Mereka menyadari bahwa kehamilan itu adalah sebuah kesalahan. Namun anak itu datang sebagai karunia. Mereka toh tidak ingin melakukan kesalahan berikutnya dengan memaksa seorang pria menikah hanya karena keharusan bertanggung jawab.

Seumur hidup terlalu lama untuk terikat dalam pernikahan karena keterpaksaan. Dan mereka tidak melakukan kesalahan lain dengan melakukan tindakan yang berbahaya.

Wanita-wanita pemberani ini mempersembahkan wajahnya pada dunia untuk menjadi ibu meski tanpa suami. Anak-anak itu tetap terlahir dan dibesarkan dengan penuh cinta oleh ibu mereka.

Saya bahkan melihat mereka jauh lebih berhasil dalam parenting dibandingkan keluarga empat sehat lima sempurna. Bahkan ada yang berdiri tegak walau tanpa support sistem di sekelilingnya. It's amazed me!

Setiap manusia pernah berbuat kesalahan. Terutama di jaman ini, di mana kebebasan menjadi sesuatu yang diagungkan banyak orang. Salah satu alasan kenapa manusia dibekali dengan hati dan pikiran adalah agar bisa mengerti, dari setiap apa yang dipercayai ada konsekuensi.

Jika tindakan melakukan hubungan di luar pernikahan dilakukan karena kesalahan, adalah bijak untuk kemudian menjadikan kesalahan itu titik balik menuju tujuan baru.

Semua pilihan memiliki pergulatannya sendiri, dan setiap orang punya cara untuk mengalahkan pertempuran dalam hidup mereka.

 

Salam Sayang

Ans

Tulisan ini akan menjadi setting tokoh dalam novel terbaru saya. Release soon...

Gambar ilustrasi dibuat dengan AI

#ansauthor

 

Thursday, September 28, 2023

Penulis Generalist Atau Specialist?



Kita perlu dikelilingi oleh orang-orang yang tepat!

Itu yang saya pikirkan saat ini. Hari kemarin saya banyak berduskusi atau lebih tepatnya bertanya pada mereka yang saya anggap kompeten di bidangnya. Lebih dari kompeten, saya mengagumi pribadi mereka yang baik sebagai manusia. Salah satu yang saya tanyakan adalah tentang pemilihan genre tulisan khususnya novel.

Ternyata, tidak semua penulis bisa 'melipat' segala jenis genre. Ada tipe-tipe penulis yang bisa menjadi specialist dan ada yang bisa menjadi generalist.

Specialist artinya adalah penulis yang mengkhususkan diri untuk bergelut dalam satu genre saja. Umumnya mereka yang seperti ini adalah mereka yang bekerja dengan passion.

Generalist adalah penulis yang 'centil'. Mereka menulis sesuai dengan pasar atau rasa penasaran untuk mencoba hal-hal baru.

Di masa ini, dunia novel sudah menjadi sebuah industri. Bukan hanya tentang seni, tapi juga tentang uang. Tanpa disadari beberapa penulis, kemudian ini sangat menentukan motivasi untuk tetap berjalan. Lalu tingkat kepuasan pekerjaan diukur dengan uang yang dihasilkan dari sebuah karya.

Sekali pun tulisan itu amburadul, tanpa tanda baca, tapi, jika itu mencuan, maka dianggap berhasil. Sebagus apa pun tulisan dan ide di dalamnya, ketika itu sepi pembaca maka dianggap gagal.

Terdengar kejam ya, tapi begitulah realita. Kadang memang perih seperti luka bertabur garam.

Layaknya sebuah industri, tidak semua yang disekitar adalah dukungan, sebagian juga merupakan persaingan. Penulis bukan hanya memiliki fans dan follower, tapi juga haters.

Jadi, kamu tipe generalist atau specialist? Itu pilihan, kepribadian dan tujuan akhirnya akan menentukan jalan 'ninja' mana yang ingin dilewati.


Salam sayang dari author yang hobby update status tengah malam.
Ans

Friday, January 14, 2022

Friendship Like A Turttle

Gambar dibuat dengan AI generate

Berbicara dengannya selalu melemparku ke masa lalu. Ketika aku masih sibuk meratapi diri dan bingung kemana menuju, aku sungguh melihat diriku padanya.

Kami bertemu bulan April 2021 di sebuah komunitas internasional. Persahabatan kami bagai kura-kura, katanya. Jatuh bangun, datang pergi, kadang bergandengan bagai teman, kadang kami saling membenci bagai musuh.

Dan hari ini kami bicara tentang sebuah kehilangan dan pengorbanan. Dari pembicaraan iseng-iseng, aku minta dia mengirimkan coklat. Siapa sangka ternyata permintaanku yang biasa, sungguh diturutinya.

Dia mulai check-in di Amazon. Meminta data dan alamatku sekaligus melunasi pembayarannya. Untuk sekotak coklat, dia membeli dengan sangat mahal. Ya sudahlah, untuk seorang editor terbaik di India itu tidak seberapa baginya.

Di akhir pembicaraan, kami berbicara tentang kesepian. Ya, kesepian yang dia rasakan dengan karir, uang, jabatan, dan kekuasaan yang dia miliki. Bagi banyak mata, dia terlihat sempurna. Namun kejujuran tentang perasaannya tidak bisa dia bagikan dengan semua orang.

Entah bagaimana, cerita kesepian itu menggugah apa yang telah aku lalui tiga belas tahun lalu. Tiga belas tahun sendiri sebagai ibu tunggal, memberiku banyak warna. Namun dari kegagalan hubungan pernikahan, aku belajar bahwa hubungan adalah tentang kebersamaan.

Banyak orang yang curhat denganku, mengatakan bahwa mereka memiliki pasangan tapi selalu merasa kesepian. Bahwa mereka sendiri dalam kebersamaan. Dan itu juga yang aku rasakan ketika aku memiliki suami.

Apakah lantas semua salahnya? Tentu saja tidak. Pasti ada andilku dalam buruknya hubungan kami. Semua kembali tentang hati. Karena dengan mereka yang jauh pun saat hati terkoneksi, rasa berhasil memeluk jiwa, maka kesepian tidak ada lagi dalam kata.

Kegagalan membuatku belajar, untuk tidak lagi mengulang sebuah kesalahan. Membuatku melakukan seleksi ketat dan kriteria luar biasa tentang pria yang aku inginkan.

Setangkup doa aku panjatkan untuk dia yang hari ini mengirim coklat untukku. Aku berharap ini hanya masalah waktu sampai kamu bisa menemukan sebuah jalan baru. Jalan yang akan membawamu pada arti cinta sesungguhnya.

Pria sebaik dirimu terlalu berharga untuk tenggelam dalam luka. Kamu hanya butuh sebuah kesempatan untuk kembali membangun apa yang selama ini kamu lupakan. Tentang hubungan, keinginan, dan harapan.

Tidak mudah, namun tetaplah melangkah. Aku genggam tanganmu sebagai sahabat hingga suatu hari nanti, cinta baru akan datang memenuhi hidupmu.

Biarkan waktu yang memilih apakah masa untuk hubungan baru itu akhirnya akan datang suatu hari nanti. Atau malah membawa ke bagian lain, tentang hubungan dan cinta dalam bentuk yang sempurna. Dalam bentuk yang berbeda.

Kadang Tuhan membiarkan kita melakukan kesalahan untuk membuat kita mengerti bahwa hidup bukan hanya tentang hari ini. Bahwa cinta adalah rasa dan hanya bisa dilihat oleh jiwa.

Namun tujuan akhir dari semua adalah bahagia.

Salam Sayang,
Ans

Thursday, January 6, 2022

Sebuah Reuni

 



Pertemuan kembali dengan teman lama masa sekolah memang selalu menyenangkan. Mengingat kembali masa muda dengan sejuta kenangannya. Salah satu alasan banyak reuni – reuni diadakan. Dan dari pertemuan dengan berbagai orang masa lalu ini, ada saja secuil kepingan yang terbawa ke masa depan tanpa sengaja.
Malam itu Yuni datang ke rumahku dengan sebuah koper besar. Tidak biasanya Yuni datang untuk menginap. Selain karena dia memang sudah berkeluarga, kami juga sebenarnya tidak terlalu akrab. Sebuah kejutan.
“Kenapa Yun?”
Yuni dengan ekspresi dingin menyecap teh panas yang baru saja kusajikan.
“Besok aku akan pulang ke Padang.”
“Sendiri?”
“Iya.”
“Suamimu tahu?”
“Kalau suamiku tahu, aku tidak perlulah transit disini. Tiket pesawatku baru akan terbang besok pagi, tapi apa daya malam ini bom sudah terlanjur meledak. Aku tidak sanggup lagi bertahan di rumah walau satu malam.”
“Dimana anak – anak?”
“Sejak seminggu lalu Wira dan Winda telah kembali ke pesantren.”
“Kenapa kamu ingin pulang ke Padang?”
“Aku ingin bercerai dengan suamiku.”
Ting nong!!! Lonceng berbunyi di kepalaku. Aku hanya diam menunggu Yuni meneruskan ceritanya.
“Tiga bulan lalu aku pergi ke Padang untuk reuni SMA dan aku bertemu dengan cinta pertamaku. Cinta yang sebenarnya telah kugadang – gadang akan berlabuh ke pelaminan. Tapi apalah daya karena dia dalam beberapa tahun tidak juga berhasil membuat hidupnya mapan, maka orang tuaku pun tidak setuju. Saat itu aku adalah seorang gadis muda yang tidak berdaya. Aku menerima saja ketika orang tuaku mengatur perjodohan.
Perjodohan dengan pria yang sepuluh tahun lebih tua dariku. Seorang pegawai negeri, memiliki kehidupan yang nyaman. Dia yang sekarang menjadi suamiku. Sampai saat ini aku berusaha sebaik mungkin sebagai istri dan melayani. Tapi setelah pertemuan dengan cinta pertamaku, hati dan jiwaku meronta.
Aku menyadari bahwa aku telah kehilangan kebebasan begitu lama. Dan aku mengorbankan kebahagiaan dengan orang yang tidak aku inginkan. Hal sama ternyata terjadi juga dengan pria cinta pertamaku. Dia pun ingin kembali ke masa itu. Dimana genggaman tangan pun cukup membuat kami merasa memiliki dunia.
Setelah reuni itu aku terus berkomunikasi dengannya. Dan aku semakin menyadari bahwa cintaku padanya tetaplah rasa yang sama. Semakin hari semakin jelas keinginanku untuk membangun lagi apa yang dulu pernah direbut paksa dariku.”
Aku menghela nafas panjang, memang begitulah cinta seringkali cara kerjanya tanpa logika. Tapi usia dewasa harusnya cukup membuat orang mengerti bahwa pernikahan adalah soal komitmen dan janji. Bukan hanya di depan manusia tapi juga di mata Sang Pencipta.
“Jadi apa rencanamu Yun?”
“Aku akan pulang ke Padang untuk mengurus perceraian. Dan cinta pertamaku itu sekarang sedang melakukan proses yang sama. Kami akan menikah setelah semuanya selesai. Aku sudah mencoba berpisah baik – baik dari suamiku tapi dia tidak mau mengerti dan memaksaku untuk tetap tinggal sebagai istrinya. Mana mungkin, aku serumah dan seranjang dengannya sementara hatiku untuk yang lain.”
Mataku berkabut mendengar cerita Yuni. Aku sungguh tidak mengerti dalam hal ini siapa yang salah. Yang aku tahu dengan mereka memperjuangkan cinta maka akan banyak hati yang terluka. Hati dari pasangan sah masing – masing dan juga anak – anak yang tidak tahu menahu tentang masa lalu.
Aku tidak bisa memberikan komentar apapun untuk cerita Yuni. Semua keputusan tentu saja dia yang akan membuat dan menjalani. Namun ada sesuatu yang menurutku patut untuk dipertanyakan.
“Yun, bagaimana jika kamu yang di posisi suamimu? Apakah kamu akan tetap tenang jika tahu suamimu meletakkan hatinya di tempat lain. Padahal secara sah dan secara agama dia adalah milikmu?”
Yuni terdiam sejenak. Dia meminum teh yang sudah tidak panas lagi dari gelasnya.
“Aku akan memberikan reaksi yang sama dengannya.”
“Lalu apa yang membuatmu yakin bahwa cinta pertamamu itu akan memberikanmu lebih baik dari apa yang suamimu saat ini berikan? Setidaknya suamimu sekarang sudah membuktikan bahwa dia sanggup memberimu kehidupan yang layak. Melengkapimu dengan dua orang anak dan menjagamu sebagai wanitanya.”
“Aku merasakan keinginan yang berbeda dan detakan jantung melebihi irama biasa ketika aku bersama cinta pertamaku di dalam sebuah kamar.”
Kusandarkan punggungku ke kursi sofa. Otot – ototku terasa lemas dan kepalaku sedikit berkunang – kunang mendengar penjelasannya. Jika hubungan Yuni dan cinta pertamanya sudah sejauh itu tentu saja hanya mereka berdua yang tahu.
“Yun, mungkin pernyataanku ini sedikit berlebihan. Tapi menurutku kamu telah jauh melangkah. Apakah ini masih bisa disebut ingin bersama karena cinta. Bisakah sekarang kita membedakan antara cinta dan gairah semata?”
“Ini hidupku, tentu saja aku yang lebih tahu.”
“Baiklah Yun, setiap orang berhak untuk memilih dengan cara apa dia ingin bahagia. Tapi setidaknya berbelas kasihanlah pada nyawa – nyawa tanpa dosa dari hasil pernikahan kalian. Kalian bolehlah berpisah tapi pikirkan apa langkah terbaik yang akan kamu berikan untuk mereka. Bagaimana kamu akan memberikan mereka pengertian dan pengasuhan setelah kalian berpisah. Serta bagaimana anak – anak akan menerima cinta pertamamu itu sebagai bagian dari masa depan mereka.”
“Anak – anak masih akan beberapa tahun lagi hidup di pesantren. Dan mereka tidak harus menerima suami baruku nanti sebagai ayah mereka. Kan mereka masih punya ayah yang sebenarnya. Mereka menerima atau tidak, cinta pertama itu akan menjadi bagian hidupku itu saja.”
Nampaknya alasan cinta telah menutup setiap sel cara berpikir Yuni. Sebanyak apapun yang aku katakan tidak akan berguna saat ini. Aku mengerti rasa dalam dirinya. Dan jika memang berpisah adalah pilihannya tentu saja tidak ada lagi orang yang bisa menghalangi.
Namun demikian sebagai single mom yang telah dua belas tahun membesarkan anak dengan pengasuhan tunggal, aku tahu persis suka dukanya. Aku tahu bagaimana mental anak – anak yang tumbuh dengan keluarga pincang. Bisa memang, putriku pun tumbuh sehat, utuh dan berprestasi.
Tapi dibalik itu semua aku berjuang mati – matian, habis – habisan untuk menjadi pembimbing arah dan membangun percaya diri putriku. Keputusan berpisah yang kebuat dengan cara tidak mudah dan tanpa alasan orang ketiga.
Sebagai wanita dan ibu, anak adalah prioritas utamaku. Setiap kali aku harus membuat keputusan maka putriku adalah pertimbangan utamaku. Sungguh tidak bisa kubayangkan mengambil keputusan atas kebahagiaan pribadiku.
Semua kembali pada pribadi dan cara pikir seseorang yang dibentuk dari hasil masa lalu juga pengalaman hidup. Manusia tidak perlu berusaha mengerti alasan tindakan seseorang. Dan tidak perlu juga menjelaskan alasan ketika mengambil keputusan. Karena dalam hidup ini selalu tersedia alasan untuk membenarkan atau menyalahkan. Penting untuk tidak menghakimi berdasarkan kaca mata kita sendiri.

Salam Sayang
Ans

Fatherless dan Pengaruhnya Dalam Tumbuh Kembang Anak

  Artikel ini terbit di  Singlemomsindonesia.org Link:  https://singlemomsindonesia.org/fatherless-dan-pengaruhnya-dalam-tumbuh-kembang-anak...