Tuesday, November 16, 2021

Pria Yang Selesai

 


Beberapa gambar dikirimkan. Kashmir memang selalu tempat yang indah. Baik Kashmir dari sisi India ataupun Kashmir dari sisi Pakistan. Pegunungan Himalaya yang memeluknya membuat kawasan ini seolah lukisan kebesaran Sang Pencipta.

Meskipun dia bukan pria yang berusia muda, namun caranya tersenyum rasanya membuat umur menjadi hanya sekedar angka. Perkenalan kami delapan bulan lalu menjadi awal komunikasi yang panjang. Komunikasi yang rasanya… berbeda dengan pria lain yang pernah aku temui.

Lebih tenang dan bermakna. Apakah itu karena usianya? Hmmmmm rasanya tidak juga. Karena aku menemukan beberapa pria dengan usia lebih darinya bahkan masih pecicilan jika berbicara dengan wanita.

Tidak setiap hari kami bertegur sapa. Sesekali memberi salam dan memberi ucapan ‘semoga harimu menyenangkan’. Namun begitulah hubungan yang didasari ketulusan, ada saja sentuhan istimewa.

Entah mengapa dengan pribadinya yang menyenangkan, ternyata rumah tangganya kandas juga. Pernah aku menanyakan alasan tentang hal itu. Namun dia menjawab dengan jawaban yang diplomatis. Mungkin dia ingin melindungi seseorang atau bahkan dirinya sendiri.

Aku menghormati kerahasiaan yang dia lakukan. Dari caranya berbicara tampak jelas bahwa dia adalah pria yang telah selesai dengan masa lalunya. Selalu menyenangkan berbicara dengan seorang pria yang nol penghakiman.

Dia menceritakan juga tentang kegagalannya. Namun dari apa yang dia alami, tidak satu pun yang dia berikan tanggung jawab atas kesalahan dan kegagalan. Dia menerima semuanya lengkap semata sebagai bagian dari perjalanan.

Pembicaraan kami yang berwarna warni menjadi ciri khas dari setiap obrolan. Kami berbicara tentang budaya, sosial, agama, bisnis bahkan tentang cinta. Bukan hal yang biasa untuk dibahas oleh orang-orang yang bertemu di dunia maya. Karena kebanyakan orang bertemu di dunia maya hanya untuk bersenang-senang atau mencari tempat untuk mencurahkan perasaan tanpa rasa malu.

Namanya Usman, usianya lima puluh satu tahun. Empat belas tahun lebih tua dariku. Aku bertemu dengannya di FB. Entah apa yang menyebabkan dia menyapaku di inbox. Sudah biasa bagiku untuk menjawab sapaan setiap orang yang masuk ke inbox-ku dengan ramah dan sopan. Terutama bagi mereka yang memulainya dengan ramah dan sopan pula.

Aku pernah bertanya padanya tentang sebab mengapa dia menyapaku di inbox. Dia bilang dia melihat sebuah komentarku dalam sebuah komunitas international. Menurut dia komentar itu sangat cerdas, mengingat aku seorang wanita Indonesia.

Wanita terutama di Asia tidak selalu bersedia untuk mengutarakan pendapat. Terutama jika pendapat itu lantas bertentangan dengan pandangan masyarakat.

“Namun aku melihat komentarmu yang cerdas dan berani. Bagiku itu luar biasa,” begitu katanya.

Hal lain yang istimewa adalah karena aku wanita Indonesia. Usman pernah tinggal dan bekerja di Indonesia dalam waktu lama. Indonesia bukan hal baru baginya. Maka ketika dia melihat seorang wanita Indonesia dengan pribadi yang berani dia sangat terkejut. Apapun alasannya, sekarang kami berteman.

Aku seorang single mom yang telah sendiri lebih dari dua belas tahun lalu. Dan Usman juga telah bercerai tujuh tahun lalu. Namun demikian rasanya masih sungkan untuk kami membicarakan tentang hubungan. Kami bahkan tidak pernah melakukan voice call atau video call. Padahal dari hari ke hari kami semakin sering teribat diskusi panjang.

Suatu hari dalam kunjungannya ke Kashmir, Usman mengirimiku sebuah gambar pemandangan, Cantik sekali. Sebuah pemandangan air terjun dengan lembah hijau di sisi kanan kirinya. Sebaris pelangi bagai payung yang menaungi. Dia bilang, “Kamu boleh menggunakannya untuk pemanis artikelmu.”

Usman tahu aku memang seorang penulis yang seringkali menuangkan pikiran di berbagai tempat. Dan sebagai pelengkap, aku akan menyertakan gambar.

Perhatian-perhatian kecil yang Usman berikan kadang melelehkan hatiku. Suatu hari aku bertanya, “Kamu punya keinginan menikah lagi nggak?”

“Iya, pasti. Aku juga pria normal.”

“Lantas kenapa tidak menikah lagi? Kamu kan pria lebih mudah mendapatkan pasangan baru.”

“Wanita selalu ada saja yang bersedia. Masalahnya ada padaku.”

“Kenapa?”

“Aku ingin memperbaiki diriku atas kegagalan rumah tanggaku yang dulu. Aku tidak bisa bilang semua adalah kesalahan mantan istriku. Pasti ada juga andilku disitu sebagai kepala rumah tangga.”

“Seperti?”

“Aku tidak bisa menceritakan padamu. Biarlah masa lalu menjadi pelajaran untuk diriku. Sekarang aku sedang memantaskan diri untuk menjadi imam yang pantas untuk wanita masa depanku.”

Jawaban yang terakhir menggelitik pikiranku. Dan membuatku ingin mempertanyakan sesuatu yang menyangkut kami berdua. Meskipun sebetulnya aku ragu tapi rasa penasaran sudah menang di pikiranku.

“Pernah terpikir menikahi wanita Indonesia?”

“Iya, negara bukan alasanku untuk menikah dengan seorang wanita.”

“Jika seorang wanita yang lebih muda datang padamu untuk menawarkan cinta?”

“Akan aku pertimbangkan.”

“Apakah kamu bersedia menikah dengan segera?”

“Keinginan itu ada. Namun menikah kan bukan hanya butuh doa.”

“Lalu?”

“Saat ini aku sedang nyaman berbicara dengan seorang wanita Indonesia. Dia lebih muda dariku. Cantik dan cerdas. Perjalanan hidup dan caranya memandang dunia membuatku kagum. Mungkin dia wanita yang terbaik saat ini di pikiranku.”

“Lalu?”

“Untuk mendapatkan wanita seperti itu aku tidak mungkin datang hanya dengan passpor dan nama. Aku ingin memberikan kepadanya sesuatu yang istimewa. Se-istimewa dirinya.”

“Caranya?”

“Aku akan membuat diriku mampu. Di usiaku hal seperti ini tidak mudah diraih. Namun jika wanita itu memang ALLAH takdirkan menjadi milikku. Maka ALLAH pasti akan memampukan aku untuk menjemputnya.”

“Oh.. beruntung sekali wanita itu. Diam – diam diperjuangkan oleh pria sepertimu.”

“Iya, dan beruntung sekali aku dipertemukan dengan wanita itu. Cerita hidupnya, apa – apa yang ditulisnya selalu memberikan semangat dan inspirasi bagiku.”

“Dia seorang penulis?”

“Iya.”

“Pernahkah kau menyatakan perasaanmu padanya?”

“Tidak, sampai aku benar – benar siap untuk menjemputnya aku tidak ingin memberikan warna yang lain untuk hubungan kami. Biarkan dia bebas.”

“Tapi jika dia memilih yang lain?”

“Mungkin dia memang bukan untukku dan aku bukan untuknya.”

“Kamu tidak merasa kehilangan?”

“Ah, tidak perlulah berandai – andai. Kita jalani saja hari ini. Doa selalu kekuatan utama. Sampai hari ini doaku masih sama. Aku ingin ALLAH menjadikan aku mampu dan layak untuk mendapatkan wanita istimewa itu.”

Pembicaranku dengan Usman memang selalu diplomatis. Kami tidak berusaha mencari tahu satu sama lain tentang dalamnya perasaan kami. Aku bahkan tidak tahu apakah wanita yang dimaksud adalah diriku. Dan aku merasa tidak perlu mempertanyakan juga.

Dari setiap obrolanku dengannya aku belajar, bagaimana memberi ruang. Memberi ruang untuk orang lain tanpa mengikatkan komitmen dan hubungan jika memang belum mampu. Dan terlebih aku belajar bagaimana memberi ruang untuk diriku sendiri.

Ada saja kegagalan tentang kehidupan tapi yang terpenting adalah bagaimana bertumbuh. Bertumbuh untuk jalan ke depan agar mimpi dan harapan terwujudkan. Bukan sekedar angan dan bayangan.

Seperti hubunganku dengan Usman yang tanpa nama. Namun kami cukup nyaman untuk seringkali berbicara. Dari satu pandangan ke pandangan lainnya. Dari satu kesan ke kesan berikutnya.

Mungkin apa yang ada di hatiku sama dengan apa yang ada di hatinya. Tapi kami sadar belum tepat waktunya untuk bertanya “Maukah kamu menjadi bagian dari diriku”.

Sang Editor

 


Di usia dua puluh tahun, dia telah menjadi editor termuda di India. Dan sekarang, usianya tiga puluh tahun. Memang beberapa tahun lebih muda dariku, namun apalah arti usia itu, hanya sekedar angka.

Uang dan kekuasaan ada di tangannya. Keberhasilan yang menumbuhkan arogansi tanpa tepi. Setiap wanita yang memandang akan mudah saja bertekuk lutut padanya. Penampilan tampan dan serentet barang mewah selalu menempel di dirinya.

Namanya Nishant, namun aku biasa memanggilnya Nisy. Bagiku itu lebih mudah untuk diucapkan. Kami bertemu di sebuah komunitas Facebook, komunitas single muslim. Pertemuan yang sebenarnya hanya karena sama-sama membunuh waktu dan kebosanan. Setidaknya begitu yang aku rasakan. Sebagai ibu tunggal dan seorang penulis, kadang jenuh melandaku. Komunitas-komunitas seperti ini menjadi kesempatan bagiku untuk bertemu orang-orang baru.

Beberapa waktu berselang sejak pertemuan pertama kami. Pembicaraan kami kian hari semakin hangat di hati. Kami tidak berbicara tentang cinta selama ini, hanya pembicaraan ringan tentang pekerjaan, hobi, dan keseharian. Memang dari awal aku sudah melihat arogansinya akan pencapaian hidup.

Sering dalam pembicaraan kami di video call, dia menunjukkan berbagai properti. Rumah mewah, kantor megah, ruangan khusus untuknya yang di desain begitu indah, bahkan dia berencana mengirimiku beberapa barang mewah dari sebuah toko online terbesar di dunia. Untuk sementara aku menolaknya. Bagiku terlalu cepat semua pemberian itu, aku perlu tahu lebih dalam tentangnya.

Karena bagiku, ketika pemberian sudah di tangan, artinya aku setuju untuk berjalan lebih jauh dengannya dan mungkin masuk ke dalam sebuah hubungan. Sampai suatu hari Nisy mengundangku untuk ikut hadir di sebuah pertemuan virtual untuk jurnalis dan editor seluruh India.

Aku benar-benar terkejut, untuk apa aku hadir di sana. Setelah pertemuan dimulai, ternyata Nisy adalah pembicara utamanya. Pertemuan berlangsung kurang lebih dua jam. Undangan yang tiba-tiba itu membuatku tidak siap. Aku menutup kamera dan menyimak diam-diam saja. Aku pun tanpa kata disana, hanya aku lihat Nisy sibuk memberikan instruksi. Sesekali dia terlihat sedikit marah pada satu atau dua jurnalisnya.

Selesai acara, Nisy menghubungiku melalui pesan chat, “Kenapa kamu menutup kameramu?”

“Karena aku tidak dalam pakaian yang pantas untuk hadir di acara seperti itu.”

“Siapa yang akan peduli dengan pakaianmu?”

“Tentu saja kolegamu.”

“Mereka semua di bawah supervisiku, aku adalah atasan mereka. Semua itu adalah jurnalis junior.”

“Iya, aku tahu. Lalu kenapa kamu mengundangku disana?”

“Aku ingin kamu tahu bagaimana aku bekerja dan caraku meng-handle kolegaku.”

“Untuk menunjukkan betapa besar dirimu?”

“Iya.”

“Namun aku tidak tertarik dengan semua itu.”

“Bagaimana bisa? Selama ini tidak ada satupun wanita yang tidak bertekuk lutut dengan mantra kekayaan, ketampanan, dan kekuasaanku.”

“Tapi wanita itu bukan aku.”

“Kamu mengusik lukaku.”

“Luka yang mana?”

Nisy memanggilku dalam sebuah panggilan video call. Setelah beberapa bincang kecil, aku kembali mempertanyakan luka itu. Nisy menarik nafas panjang dan memandangku. Beberapa menit dia terdiam, seolah meyakinkan diri apakah betul dia ingin berbagi masa lalu denganku. Sebuah kata pembuka yang begitu menyakitkan akhirnya berhasil dia ucapkan.

“Tukang buah itu mengalahkanku,” lalu Nisy mulai bercerita.

“Lima tahun lalu aku pernah memiliki kekasih. Kami saling mencintai. Dia begitu peduli dan melimpahiku dengan kasih sayang. Dia mencintaiku tanpa syarat. Dan aku memberinya apapun yang dia mau. Aku memberikan dia kartu kredit dan uang. Dia bisa membeli apapun yang dia mau.

Namun semakin hari di tahun ketiga, tuntutan lain muncul darinya. Tuntutan yang selama ini tidak pernah dia ucapkan, namun ternyata dia rindukan. Tanpa aku sadari ternyata aku tidak pernah memberikan padanya yaitu waktu dan perhatian. Sebagai editor sebuah redaksi dan menangani ratusan jurnalis, aku bekerja dua puluh empat jam sehari.

Aku tidur di kantor dan terkadang aku bahkan lupa makan dan lupa diriku sendiri. Entah ide gila dari mana yang membuat dia mengatakan itu padaku. Setelah tiga tahun hubungan kami, aku merasa seharusnya dia sudah menerimaku sepenuhnya.

Sampai suatu hari aku menemukan fakta bahwa kekasihku itu memiliki hubungan dengan seorang pemilik toko buah. Aku begitu marah dan terpukul. Aku terluka, aku merasa begitu rendah karenanya. Aku seorang editor dengan pendidikan tinggi, pencapaian luar biasa, aku punya segalanya.

Dan aku pun meminta dengan tegas padanya untuk memilih, tukang buah itu atau aku. Dan dia memilih tukang buah itu. Keputusannya serasa membunuhku. Aku merasa dikalahkan oleh tukang buah itu. Bagai mimpi aku dibuang dari kehidupannya hanya karena seorang tukang buah. Baiklah, pantang bagiku untuk menahan seorang wanita yang memang ingin pergi dari hidupku. Aku hanya butuh satu alasan kenapa dia memilih tukang buah itu.

Dan alasannya sungguh menyakiti hatiku. Karena tukang buah itu bisa memberinya kasih sayang, perhatian, dan waktu untuknya. Dia mengatakan tiga tahun bersamaku dia selalu merasa kesepian. Uang dan segala yang aku berikan padanya ternyata tidak cukup untuk membuatnya bahagia. Dia tidak bisa membayangkan masuk ke dalam hubungan pernikahan dengan semua kesibukanku. Sebuah alasan yang bagiku tidak masuk akal. Untuk apa semua itu? Di dunia ini yang kita butuhkan adalah uang dan kekuasaan. Dengan dua hal itu hidup menjadi mudah.”

Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipi Nisy. Dibalut rasa kecewa dan kemarahan. Dan aku berusaha mengerti apa yang Nisy rasakan.

“Lalu kenapa kamu masuk ke komunitas online single dan memintaku lebih jauh bersamamu?”

“Karena kamu jauh, di negara yang berbeda. Aku berharap kamu bisa mengerti aku tanpa menuntut waktu dan perhatian.”

“Tapi bukankah aku wanita juga, Nisy?”

“Iya, tapi kita tidak perlu setiap kali bertemu dan bertemu. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku.”

“Jadi apa yang kamu inginkan dari sebuah hubungan?”

“Aku ingin seseorang yang mencintaiku. Dan sebagai imbalan, aku akan memberi uang atau apapun yang mereka inginkan. Hatiku kosong tanpa seseorang yang mencintaiku.”

“Nisy, cepat atau lambat jika kita memang ingin masuk ke dalam sebuah hubungan, maka kita pasti membawanya ke alam nyata. Dan aku pun wanita dengan tuntutan yang sama. Jika kamu bertemu wanita yang hanya peduli pada uangmu, maka kamu harus mempertanyakan ketulusannya. Wanita yang sungguh-sungguh mencintaimu pasti menginginkan cinta yang sama darimu. Karena hanya cinta yang bisa menemukan cinta. Kamu tidak bisa menemukan jalan lain untuk menemukan kebahagiaan selain menemukan cinta sejati dalam bentuk dan hubungan apapun.”

Sejak hari itu, kami merubah haluan, hubungan kami kembali sebagai teman. Nisy sering menceritakan luka-luka dan kesepiannya. Aku pun sering menceritakan tentang perjalanan hidup dan mimpi-mimpiku.

Nisy memberiku ide tentang pembuatan buku dan artikel-artikelku. Dan aku selalu membawa Nisy untuk melangkah satu per satu, merangkul kembali hidupnya yang hilang ditelan pekerjaan dan uang.

Mungkin kami memang tidak punya tujuan yang sama, namun kami mencoba bergandengan dan saling menguatkan dalam perjalanan kehidupan ini.

Monday, November 15, 2021

Australia - Indonesia

 



Namanya Manu.

Bukan cinta tapi nyaman bersama.
Jatuh bangun hubungan sejak awal tahun lalu sudah kami alami. Apa bentuk hubungannya dan apakah itu cinta? Entahlah kami menjalani saja.
Bertengkar, saling block dan tertawa bersama menjadi makanan dalam hubungan kami beberapa bulan ini. Aku bertemu Manu di sebuah situs kencan online Indonesiancupid.com. Kenapa lagi – lagi online, ya memang itu pilihanku.
Aku lebih nyaman memulai sebuah hubungan yang unik dengan pria lewat dating site. Lebih tenang, tidak buru – buru dan perlahan. Membaca kepribadian sedikit demi sedikit tanpa repot harus meluangkan waktu untuk ketemu dan ketemu.
Jika ada yang mempertanyakan, memangnya tidak takut ditipu? Jujur saja yang ketemu langsung juga banyak yang kena tipu kan?
Kencan online ini kan hanya sarana saja untuk mengenal orang – orang baru. Bahkan yang dikenalin teman, sahabat, om dan tante juga bisa menipu, kok.
Jika kita percaya orang – orang yang telah lama kita kenal seperti sahabat SD, teman kuliah atau rekan kerja untuk membuat sebuah hubungan dengan dasar cinta resiko di khianati dan ditipunya pun sama.
Ini kan cuma masalah pintar – pintar kita saja. Seberapa siap dan nyaman kita dalam melalui prosesnya. Penting adalah kita bisa mengenali mana scammer, mana yang sekedar mau fun dan mana yang benar – benar punya tujuan. Sama kan di dunia nyata juga kita menemukan penipu, play boy, pemain dan orang yang punya tujuan.
Bedanya jika di dunia nyata kita akan sibuk.... saja menghindari atau bertemu mereka – mereka yang mungkin bisa menemukan kita di berbagai tempat. Melakukan hal – hal secara langsung.
Tapi di online dating ketika saya bertemu dengan orang – orang dengan tujuan yang tidak sama dan itu terbaca dari cara mereka berbicara maka saya tinggal block saja dan beres.
Namun jika bertemu dengan orang – orang dengan getaran dan tujuan yang sama, maka kita tinggal agendakan untuk bertemu dan mengenal lebih jauh. Jika cocok ya bisa berlanjut ke tahapan selanjutnya jika tidak cocok ya sudah kita bisa meneruskan perjalanan masing – masing untuk kembali mencari yang kita inginkan.
Di online dating saya ingin memiliki hubungan yang nyaman. Hubungan dimana banyak pengertian, makna dan arti di dalamnya. Bisa bertukar pendapat, opini, pengetahuan dan pengalaman – pengalaman baru.
Ok, ini kenapa tulisan jadi membahas online dating ya (tepok jidat mode on)
Kembali ke Manu. Setelah pembicaraan kami yang panjang di chat, berbagai photo dikirimkan dan juga video call kami mulai mengenal satu sama lain dengan baik.
Sebetulnya Australia ke Indonesia memang tidak terlalu jauh dan Manu memang sudah sering datang ke Indonesia. Dengan pertemuan kami di dating site dia berencana datang untuk menemuiku. Tapi apalah daya pandemi membuat kami harus bersabar.
Manu adalah pria keturunan India yang tinggal dan berkewarganegaraan Australia. Manu tinggal di Australia bersama kedua orang tuanya sejak dia masih kecil. Namun demikian seperti kebanyakan orang India, tradisi, budaya dan adat begitu kental dalam diri keluarganya.
Dia memiliki perkerjaan utama yang membuatnya menghasilkan uang. Namun yang menarik adalah hobby dan hasratnya. Dia seorang traveller dan juga Youtuber. Untuk kedua hobby-nya ini Manu rela merogoh saku sangat dalam dan menghabiskan banyak uang.
Dia memberikan aku link untuk channel youtube-nya dan melihat beberapa video hasil karyanya. Setelah melihat beberapa dan juga foto-foto di wall pribadinya ada yang menggelitik hatiku. Sepertinya Manu selalu keliling dunia tidak sendiri. Karena kamera itu ada yang lain yang menggerakkannya.
Aku juga tidak terlalu tertarik siapa yang bersamanya, aku cuma basa – basi saja sebenarnya bertanya.
“Siapa yang menggambil foto ini?”
Aku menunjukkan salah satu fotonya di sebuah candi di Bali. Photo yang sangat bagus dengan Manu seorang diri di dalamnya. Aku rasa itu buka tripod dan timer camera yang bekerja menghasilkan photo.
Satu hal yang aku suka dari Manu adalah dia selalu jujur dan tidak berusaha menyembunyikan dirinya. Meskipun berdarah India namun dalam hal pemikiran Manu sudah lebih bernilai seperti pria Australia karena sejak kecil dia tumbuh dan besar disana.
Manu menjawab,
“Seorang gadis Indonesia yang menemaniku saat aku berkunjung ke Bali waktu itu.”
Hmmmm... satu 'lampu kuning' menyala di kepalaku
“Jadi sebetulnya kamu masuk dating site apa sih yang kamu cari?”
Manu menjawab pertanyaanku dengan jujur,
“Seseorang yang bisa aku ajak berbagi. Seseorang yang bisa memberiku ketenangan dan kebahagiaan jiwa yang selama 38 tahun ini tidak pernah aku miliki.”
Dan entah kenapa pikiran ekstrim tiba – tiba saja lewat di kepalaku untuk mengajukan pertanyaan paling bodoh.
Bagi orang yang terbiasa bermain di online dating pertanyaan ini memang bodoh banget. Karena di online dating asumsi yang paling mendasar adalah seseorang itu memang single dan karena single itulah mencari pasangan di online dating.
Biarin deh kelihatan bodoh tapi aku ingin melemparkan pertanyaan ini pada Manu,
“Apakah kamu sudah punya istri?”
Manu tetap tenang dan dia merasa nyaman untuk menjawab,
“Iya aku sudah menikah dan istriku tinggal di rumah bersama orang tuaku. Namun secara apapun aku tidak merasa terhubung dengannya. Aku akan menceritakan padamu nanti saat kita bertemu.”
Baiklah aku berhenti di pertanyaan itu. Aku menghargai kejujuran Manu dan membiarkan dia tetap di zona nyaman tentang apa yang ingin dan tidak ingin dia sampaikan padaku saat ini. Aku melanjutkan pertanyaan yang lebih berhubungan dengan hubungan kami.
“Jadi kamu masuk ke dating site memang untuk menemukan teman kencan di negara – negara yang kamu datangi. Sehingga kamu ada teman yang memandumu untuk keliling sekaligus menemani malam – malammu, aku benar kan ?”
Kami memang sudah sampai pada tahapan nyaman dan terbuka satu sama lain setelah tujuh bulan berkomunikasi.
“Iya, tapi kamu tenang saja. Aku tidak akan memintamu seperti aku meminta wanita lain yang pernah kutemui. Entah kenapa aku merasa kamu begitu dekat di hatiku, berbicara denganmu membuatku nyaman. Aku serasa menjadi diriku sendiri yang aku inginkan. Dan aku juga tahu kamu seorang wanita muslim yang menjaga dirimu. Aku mungkin akan memintamu untuk menemaniku keliling Indonesia di perjalananku selanjutnya. Tapi, untuk urusan tempat tidur kamu hanya akan melakukan jika kamu menginginkan. Aku tidak akan memintamu atau memaksamu. Apalagi membayarmu seperti wanita lain. Kamu akan bersamaku sebagai teman."
Pernyataan yang manis dari seorang Manu. Entah kapan dan bagaimana kami akan bertemu nanti karena pandemi pun sampai sekarang tidak jelas kapan akan berakhir.
Yogyakarta akan menjadi tujuan perjalanan Manu selanjutnya. Bukan hanya karena aku telah memberikan banyak informasi tentang kota ini yang membuatnya tertarik. Tapi dengan dia memilih kota ini dia berharap akan lebih mudah bagi kami untuk bertemu.
Aku sampaikan pada Manu bahwa aku punya banyak keluarga di Yogyakarta yang bisa memfasilitasiku jika kita memang mau bertemu disana.
Dari hubunganku dan Manu aku belajar bahwa jika kita memberikan kejujuran dan kebenaran dari diri kita maka, kita pun akan menemukan kebenaran dan kejujuran dari diri orang lain.
Aku telah menjadi single mom selama dua belas tahun. Tapi aku menerima dengan baik proses dan perjalananku. Aku memiliki diriku yang bahagia, kebebasan untuk memilih apa yang ingin dan tidak ingin aku lakukan.
Bagaimana dengan Manu. Dia terikat dalam sebuah pernikahan. Entah seperti apa kebenaran hubungan Manu dan istrinya. Namun nyatanya Manu masih saja pecicilan di online dating.
Bahkan ketika dia menghabiskan banyak uang untuk travelling dan membuat content Youtube, dia memilih untuk bersama wanita baru yang bisa membawa dia sebentar beralih dari dunia nyata daripada dengan istrinya.
Manu, ya sudahlah ya, apa hendak dikata dia pasti punya juga alasan kenapa melakukan ini dan itu.
Sebagai wanita aku mencoba berdiri di sisi istri Manu. Apa yang dirasakan oleh wanita ini jika dia tahu sesungguhnya apa yang dilakukan suaminya.
Entahlah seperti apapun kebenaran yang nantinya satu persatu mungkin Manu sampaikan padaku. Namun aku percaya selalu ada pelajaran yang bisa di ambil bahkan dari cerita terkecil sekalipun.
Ada orang – orang yang bertahan dengan banyak alasan dalam sebuah ikatan. Ada juga yang takut dengan kesendirian. Dan aku memilih untuk bahagia dengan atau tanpa penyertaan seorang pria.

Upgrade Lima Belas

 



Awww ... ganteng banget!!!

Itulah reaksi pertama kali melihat photonya.
Sepupuku bahkan tertawa guling-guling ketika tahu aku menggunakan online dating untuk membentuk sebuah hubungan baru. Beberapa teman mengatakan itu bahaya, banyak kejahatan dan penipuan.
Tapi aku lihatnya nggak begitu. Bagiku online dating hanyalah sebuah sarana. Sarana untuk bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru. Orang-orang yang mungkin tidak akan kita jangkau dengan kaki dan tangan kita.
Buatku, orang-orang yang masuk online dating adalah orang-orang yang berani. Berani mengambil resiko, berani memperkenalkan dirinya, termasuk berani 'pegel' bertemu orang-orang yang salah dan bosannya ngobrol dengan mereka.
Kalau dulu orang-orang yang bermain di online dating dianggap sebagai orang-orang yang secara kehidupan nyata tidak mampu membangun sebuah hubungan. Apakah di jaman sekarang hal seperti ini masih berlaku juga? Tergantung masing-masing individu.
Kita punya sudut pandang, kita punya pilihan dan kita punya penilaian kita sediri.
Tapi kalau buat saya, orang-orang yang masuk online dating termasuk komunitas-komunitas di fb adalah orang-orang yang tahu potensi dirinya untuk di temukan oleh yang lain dengan potensi yang sama.
Jika bertemu orang dengan potensi berbeda atau keinginan yang berbeda, biasanya umur hubungannya nggak lama sih. Beberapa kali chat sudah bosen dan gagal.
Nyatanya selama saya bermain di online dating  dua tahun ini, saya membentuk hubungan-hubungan baru dengan banyak orang . Meskipun sampai sekarang belum sampai melangkah ke pernikahan.
Beberapa menjadi teman baik, sahabat, partner dan beberapa jadi musuh juga. Saling block dan berusaha saling melupakan.
Satu yang akhirnya sampai sekarang tanpa status. Dia seseorang dari Khasmir, Pakistan. Kami bertemu di sebuah komunitas Moslem Single International.
Anggota komunitas fb bisa siapa saja karena gratis dan lebih mudah untuk bergabung.
Berbeda dengan dating site yang kebanyakan adalah mereka yang memiliki uang. Karena berbayar dan cukup rumit dalam pengisian datanya. Ini untuk dating site yang selama ini saya pakai, ya.
Sebenarnya selama ini saya hanya silent rider saja di komunitas ini. Hingga suatu hari saya membuat postingan tentang single mom.
Ternyata postingan saya ini menarik perhatian dari seseorang. Seorang pria dari Khasmir, Pakistan. Dia masuk ke inbox saya. Kami berkenalan dan berbincang banyak tentang pandangan seorang single mom di negara lain.
Dia memberikan banyak sekali cerita juga gambaran hidup seorang single mom di India, Pakistan, Nepal dan Bangladesh karena itu adalah negara-negara sekitar Khasmir dimana dia tahu persis pola kehidupan masyarakat disana.
Ahh trenyuhnya hati mendengar cerita ini. Ternyata single mom di Indonesia jauh dan jauh lebih beruntung. Kita punya kesempatan yang sama dengan yang lain. Kita mendapatkan hak yang sama, kita bisa memperoleh perlindungan yang sama.
Dari banyak pembicaraan ini kami mulai tertarik satu sama lain. Kami mulai berbicara ke ranah pribadi. Memperkenalkan kehidupan sehari-hari dan pekerjaan masing-masing.
Darinya juga aku baru tahu kalau ternyata Khasmir terbagi di dua wilayah, setengah bagian adalah milik India dan setengah bagian adalah milik Pakistan. Dan dia ada di sisi Pakistan.
Lalu kami memutuskan untuk lebih dekat dan mulai membentuk hubungan di WA. Dari WA inilah kami sering melakukan video call. Dia memperlihatkan banyak hal.
Seorang pemilik hotel di Khasmir rupanya, ya ... ya ... ya ....
Pantas saja, cara pandang dan berpikirnya terlihat istimewa. Cara dia memberikan penilaian tentang seorang wanita dan single mom jauh lebih baik dibandingkan dengan pria-pria yang pernah kutemui.
Singkat cerita tahun 2019 dia memutuskan untuk datang ke Indonesia. Baginya Indonesia adalah negara yang jarang terdengar. Dia tahunya Bali. Dia pikir Bali adalah sebuah negara.
Sebenarnya kedatangannya ke Indonesia membuatku ragu juga. Mau apa dia ya?
Kalau sekedar berkunjung, hmm ... biaya untuk sekali visit kan tidak murah juga. Kecuali dia datang dengan sebuah tujuan lain.
Tapi dia bilang, “Ini hanya liburan biasa. Biasanya saya akan berlibur ke daerah Asia lain seperti Jepang, Korea atau China. Tahun sebelumnya saya berlibur ke daerah Timur Tengah. Namun kali ini saya akan berlibur ke Indonesia. Karena saya berlibur sekaligus bertemu seseorang yang dekat di hati.”
Pertama kali melihat langsung dirinya di Indonesia aku sangat terkejut.
Muda banget ...!
Iya, gantengnya jelas sama seperti photonya tapi ketika melihat dengan mata langsung aku rasa dia meng-upgrade umurnya terlalu banyak.
Namun kesempatan bertemu hari pertama tentu bukan hal yang baik untuk bertanya ini itu. Dia rupanya telah meminta asistennya untuk mengatur akomodasi selama di Indonesia.
Sebelumnya dia memintaku untuk mengirimkan map rumahku, untuk mempermudah dia mencari hotel terdekat dengan rumahku.
Betapa tertawanya dia, ketika dia tahu aku tinggal di sebuah perumahan dekat kaki gunung kapur.
“Saya tidak menyangka Indonesia sangat canggih. Bahkan di kaki gunung pun kamu bisa mendapatkan akses internet sebagus ini. Saya di Khasmir, mendapatkan akses internet terbatas. Dan itupun dengan kualitas koneksi yang sangat lambat. Itulah sebabnya saya lebih senang mengirimkan video daripada langsung. Karena pasti akan banyak gangguan dan membuatmu tidak nyaman.”
Dia hanya berencana untuk tinggal di Bogor selama tiga hari. Selanjutnya dia akan melanjutkan perjalanan ke Bali untuk bertemu temannya yang juga pengusaha disana.
Hari pertama pertemuan kami tidak teralu lama. Karena pesawat memang mendarat sudah menjelang sore. Dia memberitahuku bahwa dia sudah sampai di hotel sekitar habis maghrib. Kami makan malam dan bercerita ini itu.
Hari kedua dia di Bogor kami berencana untuk pergi ke sebuah tempat di Jakarta. Dia memang memintaku untuk mengatur tempat-tempat yang mungkin bisa dia kunjungi.
Aku membawa dia ke Taman Mini Indonesia Indah. Aku pikir dari tempat ini dia akan tahu Indonesia secara keseluruhan dalam satu hari. Seharian kami berkeliling. Dia begitu tertarik dengan Indonesia. Dia baru tahu Indonesia banyak suku bangsa dan aneka ragam budaya.
Dia sangat tertarik dan tidak berhenti memotret apapun yang dilihatnya. Dia bahkan sibuk sendiri dan kadang aku merasa dia lupa aku ada disebelahnya ha ... ha ... ha...!
Beberapa candaan ringan menjadi pengiring di hari itu. Dan pembicaraan yang sedikit pribadi di saat makan malam. Dia ingin bertemu keluargaku ke esokan harinya.
Hmm ... secepat itukah? Aku tidak izinkan. Ini pertemuan pertama, terlalu cepat rasanya.
Hari ketiga aku mengajaknya dia ke daerah puncak. Aku tunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya panas tapi punya juga tempat-tempat dingin meskipun tidak sedingin Khasmir tentunya. Karena Khasmir adalah wilayah dengan latar belakang pegunungan Himalaya, lebih banyak udara dingin daripada panas.
Kami banyak wisata kuliner hari itu. Sejak dari Bogor kota sampai ke Puncak Pass. Hari itu waktu kami tidak banyak karena malam hari dia akan terbang ke Bali dan tiga hari kemudian dia akan kembali ke Khasmir, Pakistan langsung dari Bali.
Perjalanan kami di Puncak berakhir di Masjid At-tawun. Sebuah masjid yang indah di Puncak pass. Dari atas sini kami melihat pemandangan yang begitu indah.
Ahhh ... ini moment-nya. Aku ingin mendapatkan jawaban yang membuatku gelisah.
“Jadi Faisal, bolehkah kau jujur padaku? Sebelumnya kau katakan umurmu empat puluh tahun tapi aku rasa kamu berbohong padaku.”
Dia menatapku tanpa senyuman.
“Ya, jika kau tahu umurku maka kau akan langsung menolakku dan aku tidak akan pernah sampai di Indonesia untuk menjangkaumu. Ketika kamu bilang usiamu tiga puluh tujuh. Aku tahu perlu sesuatu untuk mendekat padamu.”
Dalam hatiku, 'ya mungkin.'
“Jadi berapa banyak kamu menambahkan umurmu?”
Dia menatap jauh ke arah kebun teh di depan kami.
“Lima belas.”
Aku menarik nafas panjang, jadi umur sebenarnya adalah dua puluh lima tahun.
“Kita akan tetap menjadi teman. Kamu memliki tempat special di hatiku. Tapi kita tidak akan berhasil dengan hubungan lebih dari ini.”
Dia menolehku dengan tatapan mata penuh kemarahan.
“Aku tidak ada masalah dengan perbedaan umur kita. Aku akan menerimamu secara utuh. Dan juga putrimu.”
Gantian aku menatap kebun teh yang luas itu.
“Ya, kita tidak akan ada masalah setidaknya sampai lima atau sepuluh tahun hubungan kita. Tapi sesudah itu? Mungkin aku mulai masuk masa senjaku dan kamu tetap sebagai pria muda dengan penuh gairah. Itu pasti menjadi masalah.”
Dia ikuti padanganku menatap kebun teh itu
“Aku tidak akan memaksamu. Kamu tahu betul aku mencintaimu. Aku tidak akan menempuh perjalanan sejauh ini jika bukan karena cinta yang mendorongku. Kalau aku sekedar main-main percayalah di Pakistan banyak gadis cantik berbaris rapi dan siap menerimaku. Tapi aku datang kemari karena aku memilihmu. Kamu berpikir terlalu jauh tentang lima atau sepuluh tahun lagi. Tapi bagiku, cinta dan hidup kita adalah tentang hari ini. Pikirkan lagi!”
Itulah akhir pembicaraan kami yang serius. Malamnya dia terbang ke Bali dan tiga hari kemudian dia kembali ke Pakistan.
Aku melihat status akhir WA nya “Indonesia, tolong jaga cintaku.”
Setibanya di Pakistan dia memberikan aku nama panggilan baru “Mrs fox” ha ... ha ... ha ....
Apa alasannya? 
“Karena kamu membuatku jatuh cinta namun kamu curang tidak mengizinkan aku memilikimu.”
Tidak ada goresan diantara kami. Kami bahagia dengan pertemuan kami dan kami bahagia dengan hubungan persahabatan kami yang baru.
Aku memberikan dia julukan baru “LIMO (little monster)” karena ternyata umurnya dua puluh lima dan bukan empat puluh.
Hampir tiga tahun berlalu. Hubungan kami terus berjalan namun aku tidak pernah berani memutuskan apapun. Rasanya rentang umur yang terlalu jauh itu menjadi tembok penghalang yang harus kujaga agar tidak runtuh.
Aku tahu dia yang aku inginkan untuk kebahagiaanku. Aku tahu dia bisa membawa bahagia untukku. Tapi ketakutanku akan luka yang mungkin timbul di masa depan nyatanya membuatku tidak berani mengizinkan diriku untuk sekali lagi masuk ke dalam pernikahan bersamanya.
Karena aku tahu pernikahan bukanlah hanya tentang hari ini dan lima tahun lagi. Ini tentang harapan untuk bersama di dalam satu perjalanan dengan tujuan yang sama.
Aku akan meminta waktu untuk berhenti di usiaku, dan aku akan meminta waktu untuk segera bergulir di usiamu. Bisakah?

Fatherless dan Pengaruhnya Dalam Tumbuh Kembang Anak

  Artikel ini terbit di  Singlemomsindonesia.org Link:  https://singlemomsindonesia.org/fatherless-dan-pengaruhnya-dalam-tumbuh-kembang-anak...