Tuesday, November 16, 2021
Kata Dan Rasa
Pria Pun Bisa Terluka
Kulitnya yang putih juga mata sipit itu, membuatku percaya sekali pandang bahwa dia adalah pria Jepang. Namun, setelah kami berbicara, ternyata dia adalah pria eropa. Seorang pria Jerman yang menetap di Jepang. Sesuai dengan profil yang aku baca di website online dating. Usianya empat puluh lima tahun. Entah kenapa akhir – akhir ini banyak ketemui pria dengan usia yang cukup matang masuk ke situs online dating.
Pria – pria yang sebenarnya secara perjalanan dan angka harusnya sudah settle down. Memiliki keluarga, dan nyaman dengan hidupnya. Apakah jaman ini telah begitu berubah sehingga usia benar – benar hanya sekedar angka?
Kali ini aku orang pertama yang menyapanya. Karena aku jarang sekali online di situs ini. Namun ketika sebuah pesan darinya kutemukan maka dengan segera aku menyapanya. Di situs ini kami tidak perlu membuang waktu untuk perkenalan dan lain sebagainya. Karena semua sudah tersedia lengkap di profile kami masing – masing.
Setelah beberapa hari berbicara, aku mulai untuk mencari tahu siapa sesungguhnya pria ini. Memang di online dating tidak semua bisa kita percayai. Namun tidak ada cara lain yang bisa digunakan selain percaya dengan kata. Dan kata akan membuktikan juga kebenarannya meskipun kadang butuh waktu agak lama.
Yang mengherankan bagiku adalah pria satu ini hampir tidak punya selera humor. Apapun jenis obrolan yang aku sampaikan selalu disikapi dengan sangat serius. Dan suatu hari kesempatan untuk mencari tahu itu tiba.
“Apakah kamu bisa tersenyum atau tertawa?”
“Mungkin.”
“Ha.. ha.. ha… Bukankah Tuhan menciptakan kita begitu sempurna dengan senyum dan tawa juga?”
“Aku bahkan sudah lupa seperti apa rasanya bahagia.”
“Hmm… kamu bisa berbagi denganku perasaanmu jika kamu mau.”
“Apakah itu bisa membuatku merasa baik?”
“Biasanya begitu.”
“Aku merasa dunia selalu penuh dengan dusta.”
“Kenapa?”
“Aku pernah mencintai seorang wanita, dia mantan istriku. Aku mencintainya dengan jiwa dan raga. Meskipun sepuluh tahun pernikahan kami tidak memiliki anak. Namun itu tidak masalah bagiku. Bagiku yang terpenting adalah hubungan kami. Cintaku padanya dan cintanya padaku. Aku bahkan tidak pernah mencari tahu, ketidak hadiran anak karena masalah padaku atau padanya. Aku percaya saja memang belum waktunya Tuhan mengirimkan dia untukku.”
“Hmmm…”
“Aku hanya tahu aku mencintainya. Apapun yang bisa kuberikan maka akan kuberikan padanya.”
“Hal baik menurutku.”
“Namun tidak sebaik apa yang terjadi lima tahun lalu.”
“Kenapa?”
“Ketika aku kembali dari kantor lebih cepat hari itu, aku menemukan pria lain di ranjangku.”
“Hmm… lalu?”
“Aku marah dan kecewa, aku tinggalkan dia saat itu juga. Setelah beberapa bulan aku kembali untuk mengurus semua asetku di rumah kami.”
“Lalu?”
“Ternyata aku tidak memiliki hak apapun atas aset itu. Saat pernikahan semua aset atas nama istriku. Dia meminta setiap kali kami melakukan pembelian aset maka akan di atas namakan dirinya dan aku berikan. Aku percaya padanya.”
“Oh… Tidak ada yang bisa dilakukan?”
“Bisa, aku bisa saja menuntut secara hukum sebagai harta bersama. Namun aku sudah terlanjur kecewa dan jatuh dalam kehancuranku. Aku tinggalkan semuanya. Dia, asetku, keluargaku bahkan negaraku. Aku memulai lagi hidupku dari nol di Jepang.”
“Dan harusnya kamu bangga karena kamu berhasil berdiri kembali.”
“Iya, tapi di dalam diri dan hatiku sesungguhnya aku sudah kosong tanpa isi.”
“Isilah dirimu dengan cinta yang baru.”
“Terlambat, semua rasa itu telah mati sejak saat itu.”
Ali berhenti mencinta. Namun entah kenapa dia ada di online dating dan bertemu diriku. Mungkin karena hasratnya semata sebagai pria. Memang hal yang tidak bisa diingkari di masa ini. Banyak orang menyalurkan hasrat diri cukup dengan sesuatu yang berbau online saja. Kenyataan yang agak gila namun begitulah realita.
Dan sebuah kejutan Ali bertemu denganku. Aku datang ke online dating bukan untuk kencan. Apalagi memuaskan hasrat. Aku datang untuk sebuah hubungan. Aku masuk kedalamnya dan mengenal orang – orang baru untuk mendengar lebih banyak cerita. Cerita tentang luka, cerita tentang duka, dan cerita tentang kesedihan. Beberapa orang akhirnya menjadi teman hingga sekarang. Kami sering bertukar pikiran dan berbagi cerita. Namun cukup banyak juga yang menjadi musuh dan saling menjauh.
Cerita Ali mengalir deras saat dia mulai nyaman berbicara denganku. Sungguh sebagai wanita aku pun tidak tahu harus menanggapi apa. Tidak terbayang ada juga ternyata wanita yang tidak punya cukup hati untuk melukai pria yang pernah mencintainya. Mungkin karena hadirnya cinta lain yang membuatnya merasa nyaman. Namun tentu saja penilaian tidak bisa mutlak diberikan. Karena aku hanya mendengar cerita. Aku hanya menyediakan kuping saja. Namun realita di balik cerita hanya Ali dan istrinya yang tahu.
Dan di luar pemikiranku selama ini, bahwa ternyata trauma seorang pria bahkan bisa lebih dalam. Ketika mereka memberikan cinta namun mereka malah mendapatkan luka. Ali di usianya yang tidak lagi muda bahkan memutuskan untuk sendiri sampai akhir.
“Ali, bukankah hidup ini memang seperti itu? Kadang kita dilukai dan bisa jadi tanpa kita sadari kita juga pernah melukai.”
“Betul, namun luka itu terasa begitu dalam. Ketika kamu mencintai seseorang dengan hatimu yang terdalam. Dan celakanya aku kehilangan kepercayaan. Pada semua wanita tanpa terkecuali.”
“Termasuk padaku?”
“Ha… ha…ha… mungkin. Aku cukup nyaman berbagi denganmu tapi untuk menjalin cinta, rasanya aku hanya akan melukaimu saja nantinya.”
“Dan tidak semua ada dalam kendali kita Ali. Kita tidak bisa mengendalikan orang lain. Namun kita bisa mengendalikan perasaan kita sendiri.”
“Iya, kamu benar. Kamu wanita yang cerdas. Kamu menyimpulkan kehidupan dengan begitu tajam. Karena aku tahu aku tidak bisa mengendalikan siapa pun, makanya aku memutuskan untuk mengendalikan diriku sendiri.”
“Dengan tidak menikah?”
“Dengan tidak mencintai. Aku terhindar dari resiko akan sakit hati. Cara yang nyaman dan aman.”
“Namun kekosongan hati tidak bisa berdusta Ali.”
“Aku bisa bersama wanita selama yang aku mau. Dan berhenti jika aku telah merasa bosan. Aku bisa mendapatkan cinta tanpa perlu ikatan.”
Rasanya tidak perlu lagi kulanjutkan chat-ku dengan Ali. Karena dia adalah pria dewasa yang telah memilih jalannya sendiri. Ali tahu kekuatan dan keinginan dalam dirinya. Karena setiap kehidupan adalah tentang apa – apa yang kita ingin jalani.
Selama setahun aku berpetualang di online dating. Ada saja pria yang bisa aku ajak berbicara. Ali salah satunya. Namun aku pun manusia biasa. Aku bukan hanya ingin melihat luka. Jika aku bisa, aku menyiapkan telinga dan mendengar mereka menyampaikan kegundahannya. Mereka dapat ringan dari dukanya dan aku mendapat sebuah pelajaran yang dapat kutuliskan sebagai kesan untuk yang lainnya.
Menua Bersama
Online Dating memang penuh warna.
Satu kali dua puluh empat jam pun kadang rasanya masih kurang. Untuk seorang single mom dengan jejalan kegiatan yang harus dilakukan. Namun entah kenapa ada saja alasan untuk masuk ke online dating.
Ingin bertemu pasangan? Mungkin bukan itu alasan sesungguhnya. Masuk ke online dating artinya bertemu dengan orang – orang baru tanpa harus bertatap muka. Jika suka, maka bisa berbicara lebih, dan tidak jarang menjadi teman. Begitupun sebaliknya, jika tidak sesuai keinginan, maka dalam hitungan menit pun sudah menjadi musuh.
Ketika aku bertemu dengan Ezy, memang sejak awal dia sudah mengatakan ingin mencari pasangan. Seorang istri untuk menempati ruang di hatinya yang telah sepi sejak enam tahun lalu. Pernikahannya telah berakhir di meja pengadilan. Butuh waktu bagi Ezy untuk menerima wanita baru. Dan menurutnya online dating adalah tempat yang tepat. Mengenal seseorang dari angka nol.
Aku setuju dengan pendapat itu. Tapi mengenal seseorang dari online dating memang seperti bermain roller coaster. Sedikit saja lolos pandangan maka keselamatan menjadi taruhan.
Pembicaraanku dengan Ezy awalnya menyenangkan. Usia kami yang boleh dibilang seimbang, memudahkan kami dalam pemahaman. Sejak awal sudah aku sampaikan bahwa tujuan kita berbeda. Dia datang dengan asa akan cinta dan aku….. aku di online dating sebetulnya mencari inspirasi dan wacana saja.
Namun demikian alasanku tidak membuat Ezy mundur. Dia sudah terlanjur jatuh cinta padaku, katanya. Jatuh cinta dengan kata dan sikapku. Kami beberapa kali video call dan chat. Pembicaraan kami tidak jauh – jauh dari seputar cinta, masa depan, dan sebuah hubungan.
Pembicaraan awal yang sebenarnya menyenangkan, namun perlahan tapi pasti malah jadi menyesakkan. Jika aku terlihat online namun tidak menjawab pesannya, maka dia akan langsung murka dan memberikan kata – kata yang tidak enak dibaca. Dan ketika kami ber-video call lalu aku yang meminta mengakhiri karena sudah cukup lama, maka itu juga bisa membuat dia berburuk sangka.
Aku ikuti alur permainannya, bukan karena aku mengharapkan dia. Namun aku sedang mempelajari pria seperti apa Ezy sesungguhnya. Sampai suatu hari waktu yang tepat pun datang, ketika dia secara resmi memintaku untuk ‘membuka pintu’ atas kehadirannya.
“Aku akan datang ke Indonesia.”
“Oh, bagus, untuk apa?”
“Meminangmu.”
“Bukankah kita tidak dalam sebuah ikatan?”
“Kita cukup dewasa untuk tidak perlu sebuah ikatan awal.”
“Maksudmu?”
“Seorang pria tidak perlu memberikan kata, cukup menyajikan bukti untuk bisa dipahami.”
“Tapi aku mungkin akan menolakmu.”
“Mengapa? Pembicaraan kita selama ini terlihat baik dan menyenangkan.”
“Baik dan menyenangkan adalah karakterku pada semua orang. Yang baik dan sopan. Namun bukan berarti aku memberikan harapan pada siapapun yang datang.”
“Apa kurangnya diriku?”
“Tidak ada bagi mereka yang bisa menerimamu.”
“Aku tidak ingin yang lain menerimaku, aku ingin kamu.”
“Hubungan kita di chat dan video call saja bagiku terasa menyesakkan.”
“Maksudmu dengan kata – kataku?”
“Ya, kamu berusaha menguasai dan mengendalikanku.”
“Bukankah itu bukti cinta?”
“Cinta punya alasan untuk memberi ruang bahagia. Bukan mendekap sampai tidak bisa bernafas.”
“Ya, aku tidak ingin masa laluku terulang lagi.”
“Masa lalu yang mana?”
“Pengkhianatan mantan istriku dengan pria lain.”
“Hmm… apa yang kamu pikirkan tentangku sebagai wanita yang kamu harapkan?”
“Aku ingin duniamu hanyalah tentangku.”
Bincang panjang yang sebenarnya sejak awal telah bisa kubaca. Ezy belum selesai dengan masa lalunya. Sebaris trauma masih tersisa di hatinya akan masa lalu. Pengkhianatan yang dilakukan wanita ternyata menyisakan tembok tinggi di hatinya.
Bertemu seorang wanita lewat online dating dan hanya dengan beberapa kali berbicara kemudian ingin menikah juga sebuah tanda tanya besar. Alasan yang paling mudah memang cinta. Karena hanya cinta satu – satunya alasan yang boleh dibilang tidak masuk akal. Namun Ezy malah bertemu denganku, wanita yang tidak pernah percaya dengan cinta pada pandangan pertama.
Aku wanita yang selalu percaya cinta hanya akan terbit di akhir cerita. Setelah banyaknya waktu bersama dalam sebuah cerita maka disitulah cinta akan menemukan sukmanya. Beberapa waktu berlalu dari pembicaraan kami yang terakhir. Kami tetap berbicara segala hal dan kemungkinan akan masa depan.
Sejujurnya pembicaraan yang membuatku agak sedikit bosan. Tiga puluh tujuh tahun umurku dan hampir tiga belas tahun diantaranya kulalui sebagai single mom. Membuatku belajar bahwa hidup yang nyata adalah tentang hari ini. Deretan rencana akan masa depan seringkali hanya akan berakhir sebagai beban. Yang kadang membuat harapan dan tidak jarang menyakitkan.
Begitu juga yang Ezy ceritakan padaku. Ketika dia meninggalkan negaranya India untuk mengambil sebuah pekerjaan di Arab. Dia meninggalkan anak dan istrinya. Dengan sebuah tujuan, menghasilkan lebih banyak uang untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Namun masa depan selalu tinggal harapan. Ketika akhirnya Ezy berhadapan dengan kenyataan bahwa istrinya tidaklah sekuat yang dia inginkan.
Kesepian dan kerinduan membuat istrinya memilih cara lain untuk bertahan. Cara yang akhirnya menghancurkan anyaman mimpi rumah tangga mereka. Pria lain yang dianggap lebih mampu memenuhi harapan dan keinginan sang istri. Keputusan perpisahan yang diminta begitu menghancurkan perasaan Ezy. Sedih, marah, kecewa sampai membuatnya trauma untuk memiliki hubungan baru dengan wanita lain di dunia nyata.
Ezy berlelah – lelah pergi ke dunia maya untuk berusaha menemukan setumpuk cinta dari dunia yang tidak dikenalnya. Beberapa wanita pernah diajaknya berbicara. Namun entah dengan alat ukur jenis apa, sebelum menutup akunnya secara permanen Ezy memilihku.
Aku pun ingin tidak mengecewakan mimpi dan harapannya. Namun aku wanita yang juga ingin bahagia. Tidak terbayang bagiku, tinggal dengan pria yang setiap hari selalu terselimuti curiga. Bagaimana kami akan bernafas dengan bayangan masa lalu tentang sebuah pengkhianatan. Yang terbaik bagi kami saat ini adalah hubungan teman.
Aku mempersilahkan jika Ezy memang ingin datang. Namun aku sampaikan, bahwa aku tidak bisa menjanjikan apapun. Jangankan cinta, seutas harapan bersama pun saat ini tidak ada di kepalaku. Aku persilahkan Ezy menjadi bagian dari perjalanan akan kehidupan. Untuk belajar bertumbuh bersama sebagai teman. Bukan menua bersama dalam cinta.
Kegagalanku atau pun kejatuhannya lebih dari cukup bagi kami berdua untuk belajar. Bahwa masa depan memang hanya sebuah harapan. Dan bahwa cinta hanyalah tentang kata. Yang nyata adalah diri kita hari ini, apa yang bisa kita lakukan saat ini. Baik dalam hubungan maupun keinginan. Hidup seharusnya tidak menjadi beban, jika kita tahu bahwa setiap langkah memiliki waktunya sendiri untuk berpindah.
Hidup ini selalu tentang pilihan. Dan setiap pilihan pasti membawa tanggung jawabnya sendiri untuk diambil dan dinikmati. Kedewasaan bukan hanya tentang usia namun tentang berapa banyak kita berhasil mengambil makna dari waktu yang berlalu.
Pria Yang Selesai
Beberapa gambar dikirimkan. Kashmir memang selalu tempat yang indah. Baik Kashmir dari sisi India ataupun Kashmir dari sisi Pakistan. Pegunungan Himalaya yang memeluknya membuat kawasan ini seolah lukisan kebesaran Sang Pencipta.
Meskipun dia bukan pria yang berusia muda, namun caranya tersenyum rasanya membuat umur menjadi hanya sekedar angka. Perkenalan kami delapan bulan lalu menjadi awal komunikasi yang panjang. Komunikasi yang rasanya… berbeda dengan pria lain yang pernah aku temui.
Lebih tenang dan bermakna. Apakah itu karena usianya? Hmmmmm rasanya tidak juga. Karena aku menemukan beberapa pria dengan usia lebih darinya bahkan masih pecicilan jika berbicara dengan wanita.
Tidak setiap hari kami bertegur sapa. Sesekali memberi salam dan memberi ucapan ‘semoga harimu menyenangkan’. Namun begitulah hubungan yang didasari ketulusan, ada saja sentuhan istimewa.
Entah mengapa dengan pribadinya yang menyenangkan, ternyata rumah tangganya kandas juga. Pernah aku menanyakan alasan tentang hal itu. Namun dia menjawab dengan jawaban yang diplomatis. Mungkin dia ingin melindungi seseorang atau bahkan dirinya sendiri.
Aku menghormati kerahasiaan yang dia lakukan. Dari caranya berbicara tampak jelas bahwa dia adalah pria yang telah selesai dengan masa lalunya. Selalu menyenangkan berbicara dengan seorang pria yang nol penghakiman.
Dia menceritakan juga tentang kegagalannya. Namun dari apa yang dia alami, tidak satu pun yang dia berikan tanggung jawab atas kesalahan dan kegagalan. Dia menerima semuanya lengkap semata sebagai bagian dari perjalanan.
Pembicaraan kami yang berwarna warni menjadi ciri khas dari setiap obrolan. Kami berbicara tentang budaya, sosial, agama, bisnis bahkan tentang cinta. Bukan hal yang biasa untuk dibahas oleh orang-orang yang bertemu di dunia maya. Karena kebanyakan orang bertemu di dunia maya hanya untuk bersenang-senang atau mencari tempat untuk mencurahkan perasaan tanpa rasa malu.
Namanya Usman, usianya lima puluh satu tahun. Empat belas tahun lebih tua dariku. Aku bertemu dengannya di FB. Entah apa yang menyebabkan dia menyapaku di inbox. Sudah biasa bagiku untuk menjawab sapaan setiap orang yang masuk ke inbox-ku dengan ramah dan sopan. Terutama bagi mereka yang memulainya dengan ramah dan sopan pula.
Aku pernah bertanya padanya tentang sebab mengapa dia menyapaku di inbox. Dia bilang dia melihat sebuah komentarku dalam sebuah komunitas international. Menurut dia komentar itu sangat cerdas, mengingat aku seorang wanita Indonesia.
Wanita terutama di Asia tidak selalu bersedia untuk mengutarakan pendapat. Terutama jika pendapat itu lantas bertentangan dengan pandangan masyarakat.
“Namun aku melihat komentarmu yang cerdas dan berani. Bagiku itu luar biasa,” begitu katanya.
Hal lain yang istimewa adalah karena aku wanita Indonesia. Usman pernah tinggal dan bekerja di Indonesia dalam waktu lama. Indonesia bukan hal baru baginya. Maka ketika dia melihat seorang wanita Indonesia dengan pribadi yang berani dia sangat terkejut. Apapun alasannya, sekarang kami berteman.
Aku seorang single mom yang telah sendiri lebih dari dua belas tahun lalu. Dan Usman juga telah bercerai tujuh tahun lalu. Namun demikian rasanya masih sungkan untuk kami membicarakan tentang hubungan. Kami bahkan tidak pernah melakukan voice call atau video call. Padahal dari hari ke hari kami semakin sering teribat diskusi panjang.
Suatu hari dalam kunjungannya ke Kashmir, Usman mengirimiku sebuah gambar pemandangan, Cantik sekali. Sebuah pemandangan air terjun dengan lembah hijau di sisi kanan kirinya. Sebaris pelangi bagai payung yang menaungi. Dia bilang, “Kamu boleh menggunakannya untuk pemanis artikelmu.”
Usman tahu aku memang seorang penulis yang seringkali menuangkan pikiran di berbagai tempat. Dan sebagai pelengkap, aku akan menyertakan gambar.
Perhatian-perhatian kecil yang Usman berikan kadang melelehkan hatiku. Suatu hari aku bertanya, “Kamu punya keinginan menikah lagi nggak?”
“Iya, pasti. Aku juga pria normal.”
“Lantas kenapa tidak menikah lagi? Kamu kan pria lebih mudah mendapatkan pasangan baru.”
“Wanita selalu ada saja yang bersedia. Masalahnya ada padaku.”
“Kenapa?”
“Aku ingin memperbaiki diriku atas kegagalan rumah tanggaku yang dulu. Aku tidak bisa bilang semua adalah kesalahan mantan istriku. Pasti ada juga andilku disitu sebagai kepala rumah tangga.”
“Seperti?”
“Aku tidak bisa menceritakan padamu. Biarlah masa lalu menjadi pelajaran untuk diriku. Sekarang aku sedang memantaskan diri untuk menjadi imam yang pantas untuk wanita masa depanku.”
Jawaban yang terakhir menggelitik pikiranku. Dan membuatku ingin mempertanyakan sesuatu yang menyangkut kami berdua. Meskipun sebetulnya aku ragu tapi rasa penasaran sudah menang di pikiranku.
“Pernah terpikir menikahi wanita Indonesia?”
“Iya, negara bukan alasanku untuk menikah dengan seorang wanita.”
“Jika seorang wanita yang lebih muda datang padamu untuk menawarkan cinta?”
“Akan aku pertimbangkan.”
“Apakah kamu bersedia menikah dengan segera?”
“Keinginan itu ada. Namun menikah kan bukan hanya butuh doa.”
“Lalu?”
“Saat ini aku sedang nyaman berbicara dengan seorang wanita Indonesia. Dia lebih muda dariku. Cantik dan cerdas. Perjalanan hidup dan caranya memandang dunia membuatku kagum. Mungkin dia wanita yang terbaik saat ini di pikiranku.”
“Lalu?”
“Untuk mendapatkan wanita seperti itu aku tidak mungkin datang hanya dengan passpor dan nama. Aku ingin memberikan kepadanya sesuatu yang istimewa. Se-istimewa dirinya.”
“Caranya?”
“Aku akan membuat diriku mampu. Di usiaku hal seperti ini tidak mudah diraih. Namun jika wanita itu memang ALLAH takdirkan menjadi milikku. Maka ALLAH pasti akan memampukan aku untuk menjemputnya.”
“Oh.. beruntung sekali wanita itu. Diam – diam diperjuangkan oleh pria sepertimu.”
“Iya, dan beruntung sekali aku dipertemukan dengan wanita itu. Cerita hidupnya, apa – apa yang ditulisnya selalu memberikan semangat dan inspirasi bagiku.”
“Dia seorang penulis?”
“Iya.”
“Pernahkah kau menyatakan perasaanmu padanya?”
“Tidak, sampai aku benar – benar siap untuk menjemputnya aku tidak ingin memberikan warna yang lain untuk hubungan kami. Biarkan dia bebas.”
“Tapi jika dia memilih yang lain?”
“Mungkin dia memang bukan untukku dan aku bukan untuknya.”
“Kamu tidak merasa kehilangan?”
“Ah, tidak perlulah berandai – andai. Kita jalani saja hari ini. Doa selalu kekuatan utama. Sampai hari ini doaku masih sama. Aku ingin ALLAH menjadikan aku mampu dan layak untuk mendapatkan wanita istimewa itu.”
Pembicaranku dengan Usman memang selalu diplomatis. Kami tidak berusaha mencari tahu satu sama lain tentang dalamnya perasaan kami. Aku bahkan tidak tahu apakah wanita yang dimaksud adalah diriku. Dan aku merasa tidak perlu mempertanyakan juga.
Dari setiap obrolanku dengannya aku belajar, bagaimana memberi ruang. Memberi ruang untuk orang lain tanpa mengikatkan komitmen dan hubungan jika memang belum mampu. Dan terlebih aku belajar bagaimana memberi ruang untuk diriku sendiri.
Ada saja kegagalan tentang kehidupan tapi yang terpenting adalah bagaimana bertumbuh. Bertumbuh untuk jalan ke depan agar mimpi dan harapan terwujudkan. Bukan sekedar angan dan bayangan.
Seperti hubunganku dengan Usman yang tanpa nama. Namun kami cukup nyaman untuk seringkali berbicara. Dari satu pandangan ke pandangan lainnya. Dari satu kesan ke kesan berikutnya.
Mungkin apa yang ada di hatiku sama dengan apa yang ada di hatinya. Tapi kami sadar belum tepat waktunya untuk bertanya “Maukah kamu menjadi bagian dari diriku”.
Sang Editor
Di usia dua puluh tahun, dia telah menjadi editor termuda di India. Dan sekarang, usianya tiga puluh tahun. Memang beberapa tahun lebih muda dariku, namun apalah arti usia itu, hanya sekedar angka.
Uang dan kekuasaan ada di tangannya. Keberhasilan yang menumbuhkan arogansi tanpa tepi. Setiap wanita yang memandang akan mudah saja bertekuk lutut padanya. Penampilan tampan dan serentet barang mewah selalu menempel di dirinya.
Namanya Nishant, namun aku biasa memanggilnya Nisy. Bagiku itu lebih mudah untuk diucapkan. Kami bertemu di sebuah komunitas Facebook, komunitas single muslim. Pertemuan yang sebenarnya hanya karena sama-sama membunuh waktu dan kebosanan. Setidaknya begitu yang aku rasakan. Sebagai ibu tunggal dan seorang penulis, kadang jenuh melandaku. Komunitas-komunitas seperti ini menjadi kesempatan bagiku untuk bertemu orang-orang baru.
Beberapa waktu berselang sejak pertemuan pertama kami. Pembicaraan kami kian hari semakin hangat di hati. Kami tidak berbicara tentang cinta selama ini, hanya pembicaraan ringan tentang pekerjaan, hobi, dan keseharian. Memang dari awal aku sudah melihat arogansinya akan pencapaian hidup.
Sering dalam pembicaraan kami di video call, dia menunjukkan berbagai properti. Rumah mewah, kantor megah, ruangan khusus untuknya yang di desain begitu indah, bahkan dia berencana mengirimiku beberapa barang mewah dari sebuah toko online terbesar di dunia. Untuk sementara aku menolaknya. Bagiku terlalu cepat semua pemberian itu, aku perlu tahu lebih dalam tentangnya.
Karena bagiku, ketika pemberian sudah di tangan, artinya aku setuju untuk berjalan lebih jauh dengannya dan mungkin masuk ke dalam sebuah hubungan. Sampai suatu hari Nisy mengundangku untuk ikut hadir di sebuah pertemuan virtual untuk jurnalis dan editor seluruh India.
Aku benar-benar terkejut, untuk apa aku hadir di sana. Setelah pertemuan dimulai, ternyata Nisy adalah pembicara utamanya. Pertemuan berlangsung kurang lebih dua jam. Undangan yang tiba-tiba itu membuatku tidak siap. Aku menutup kamera dan menyimak diam-diam saja. Aku pun tanpa kata disana, hanya aku lihat Nisy sibuk memberikan instruksi. Sesekali dia terlihat sedikit marah pada satu atau dua jurnalisnya.
Selesai acara, Nisy menghubungiku melalui pesan chat, “Kenapa kamu menutup kameramu?”
“Karena aku tidak dalam pakaian yang pantas untuk hadir di acara seperti itu.”
“Siapa yang akan peduli dengan pakaianmu?”
“Tentu saja kolegamu.”
“Mereka semua di bawah supervisiku, aku adalah atasan mereka. Semua itu adalah jurnalis junior.”
“Iya, aku tahu. Lalu kenapa kamu mengundangku disana?”
“Aku ingin kamu tahu bagaimana aku bekerja dan caraku meng-handle kolegaku.”
“Untuk menunjukkan betapa besar dirimu?”
“Iya.”
“Namun aku tidak tertarik dengan semua itu.”
“Bagaimana bisa? Selama ini tidak ada satupun wanita yang tidak bertekuk lutut dengan mantra kekayaan, ketampanan, dan kekuasaanku.”
“Tapi wanita itu bukan aku.”
“Kamu mengusik lukaku.”
“Luka yang mana?”
Nisy memanggilku dalam sebuah panggilan video call. Setelah beberapa bincang kecil, aku kembali mempertanyakan luka itu. Nisy menarik nafas panjang dan memandangku. Beberapa menit dia terdiam, seolah meyakinkan diri apakah betul dia ingin berbagi masa lalu denganku. Sebuah kata pembuka yang begitu menyakitkan akhirnya berhasil dia ucapkan.
“Tukang buah itu mengalahkanku,” lalu Nisy mulai bercerita.
“Lima tahun lalu aku pernah memiliki kekasih. Kami saling mencintai. Dia begitu peduli dan melimpahiku dengan kasih sayang. Dia mencintaiku tanpa syarat. Dan aku memberinya apapun yang dia mau. Aku memberikan dia kartu kredit dan uang. Dia bisa membeli apapun yang dia mau.
Namun semakin hari di tahun ketiga, tuntutan lain muncul darinya. Tuntutan yang selama ini tidak pernah dia ucapkan, namun ternyata dia rindukan. Tanpa aku sadari ternyata aku tidak pernah memberikan padanya yaitu waktu dan perhatian. Sebagai editor sebuah redaksi dan menangani ratusan jurnalis, aku bekerja dua puluh empat jam sehari.
Aku tidur di kantor dan terkadang aku bahkan lupa makan dan lupa diriku sendiri. Entah ide gila dari mana yang membuat dia mengatakan itu padaku. Setelah tiga tahun hubungan kami, aku merasa seharusnya dia sudah menerimaku sepenuhnya.
Sampai suatu hari aku menemukan fakta bahwa kekasihku itu memiliki hubungan dengan seorang pemilik toko buah. Aku begitu marah dan terpukul. Aku terluka, aku merasa begitu rendah karenanya. Aku seorang editor dengan pendidikan tinggi, pencapaian luar biasa, aku punya segalanya.
Dan aku pun meminta dengan tegas padanya untuk memilih, tukang buah itu atau aku. Dan dia memilih tukang buah itu. Keputusannya serasa membunuhku. Aku merasa dikalahkan oleh tukang buah itu. Bagai mimpi aku dibuang dari kehidupannya hanya karena seorang tukang buah. Baiklah, pantang bagiku untuk menahan seorang wanita yang memang ingin pergi dari hidupku. Aku hanya butuh satu alasan kenapa dia memilih tukang buah itu.
Dan alasannya sungguh menyakiti hatiku. Karena tukang buah itu bisa memberinya kasih sayang, perhatian, dan waktu untuknya. Dia mengatakan tiga tahun bersamaku dia selalu merasa kesepian. Uang dan segala yang aku berikan padanya ternyata tidak cukup untuk membuatnya bahagia. Dia tidak bisa membayangkan masuk ke dalam hubungan pernikahan dengan semua kesibukanku. Sebuah alasan yang bagiku tidak masuk akal. Untuk apa semua itu? Di dunia ini yang kita butuhkan adalah uang dan kekuasaan. Dengan dua hal itu hidup menjadi mudah.”
Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipi Nisy. Dibalut rasa kecewa dan kemarahan. Dan aku berusaha mengerti apa yang Nisy rasakan.
“Lalu kenapa kamu masuk ke komunitas online single dan memintaku lebih jauh bersamamu?”
“Karena kamu jauh, di negara yang berbeda. Aku berharap kamu bisa mengerti aku tanpa menuntut waktu dan perhatian.”
“Tapi bukankah aku wanita juga, Nisy?”
“Iya, tapi kita tidak perlu setiap kali bertemu dan bertemu. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku.”
“Jadi apa yang kamu inginkan dari sebuah hubungan?”
“Aku ingin seseorang yang mencintaiku. Dan sebagai imbalan, aku akan memberi uang atau apapun yang mereka inginkan. Hatiku kosong tanpa seseorang yang mencintaiku.”
“Nisy, cepat atau lambat jika kita memang ingin masuk ke dalam sebuah hubungan, maka kita pasti membawanya ke alam nyata. Dan aku pun wanita dengan tuntutan yang sama. Jika kamu bertemu wanita yang hanya peduli pada uangmu, maka kamu harus mempertanyakan ketulusannya. Wanita yang sungguh-sungguh mencintaimu pasti menginginkan cinta yang sama darimu. Karena hanya cinta yang bisa menemukan cinta. Kamu tidak bisa menemukan jalan lain untuk menemukan kebahagiaan selain menemukan cinta sejati dalam bentuk dan hubungan apapun.”
Sejak hari itu, kami merubah haluan, hubungan kami kembali sebagai teman. Nisy sering menceritakan luka-luka dan kesepiannya. Aku pun sering menceritakan tentang perjalanan hidup dan mimpi-mimpiku.
Nisy memberiku ide tentang pembuatan buku dan artikel-artikelku. Dan aku selalu membawa Nisy untuk melangkah satu per satu, merangkul kembali hidupnya yang hilang ditelan pekerjaan dan uang.
Mungkin kami memang tidak punya tujuan yang sama, namun kami mencoba bergandengan dan saling menguatkan dalam perjalanan kehidupan ini.
Monday, November 15, 2021
Australia - Indonesia
Namanya Manu.
Upgrade Lima Belas
Awww ... ganteng banget!!!
Fatherless dan Pengaruhnya Dalam Tumbuh Kembang Anak
Artikel ini terbit di Singlemomsindonesia.org Link: https://singlemomsindonesia.org/fatherless-dan-pengaruhnya-dalam-tumbuh-kembang-anak...

-
Artikel ini terbit di Singlemomsindonesia.org Link: https://singlemomsindonesia.org/movie-review-ride-on-staring-by-jackie-chan/